Pertanyaan di akhir interview: apa yang sebaiknya ditanyakan ke HRD dan user
Saat pewawancara bertanya "Ada yang ingin ditanyakan?", ajukan dua atau tiga pertanyaan terbuka tentang posisi, tim, dan cara keberhasilan diukur, lalu tutup dengan pertanyaan tentang tahap selanjutnya. Siapkan sekitar lima pertanyaan, dan jangan pernah menjawab "tidak ada".
Saat pewawancara bertanya "Ada yang ingin ditanyakan?" atau "Ada pertanyaan untuk kami?", ajukan dua atau tiga pertanyaan terbuka tentang posisi, tim, dan cara keberhasilan diukur, lalu tutup dengan pertanyaan tentang tahap selanjutnya. Siapkan sekitar lima pertanyaan supaya Anda tetap punya cadangan jika sebagian sudah terjawab selama interview.
Kenapa pertanyaan di akhir interview itu penting?
Banyak kandidat mengira sesi tanya jawab di akhir hanya basa-basi penutup. Padahal pewawancara masih menilai: apakah Anda benar-benar memahami posisi ini, apakah Anda sudah membayangkan diri bekerja di sana, dan apakah Anda bisa berdialog, bukan hanya menjawab.
Jawaban "Tidak ada, Bu, sudah jelas semua" terdengar sopan, tetapi mudah dibaca sebagai kurang tertarik. Sebaliknya, satu pertanyaan yang tepat bisa mengubah lima menit terakhir menjadi obrolan yang hidup. Pertanyaan ini juga untuk kepentingan Anda sendiri: jawabannya membantu Anda menilai apakah pekerjaan ini memang cocok.
Apa yang bisa ditanyakan tentang posisi dan bulan-bulan pertama?
Pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa Anda sudah memikirkan pekerjaannya:
- "Seperti apa gambaran satu minggu kerja di posisi ini?"
- "Apa yang paling diharapkan dari saya di tiga bulan pertama?"
- "Posisi ini baru dibuka, atau menggantikan orang sebelumnya?"
- "Bagaimana proses onboarding atau pelatihan untuk karyawan baru?"
Pertanyaan apa yang cocok tentang tim dan atasan?
Kalau yang mewawancarai adalah calon atasan langsung (di Indonesia sering disebut interview user), ini saat yang paling tepat:
- "Nanti saya akan paling sering bekerja dengan siapa?"
- "Tim ini terdiri dari berapa orang, dan bagaimana pembagian tugasnya?"
- "Bapak biasanya memberikan masukan ke anggota tim dengan cara seperti apa?"
- "Apa kesamaan orang-orang yang berhasil di tim ini?"
Bagaimana menanyakan cara keberhasilan diukur?
Di banyak perusahaan, kinerja dinilai lewat KPI, target bulanan, atau penilaian di akhir masa percobaan. Menanyakannya sangat wajar:
- "Indikator apa yang dipakai untuk menilai kinerja di posisi ini? Apakah KPI-nya sudah ditentukan?"
- "Setelah enam bulan, hal apa yang membuat Bapak/Ibu merasa sudah memilih orang yang tepat?"
- "Tantangan terbesar yang sedang dihadapi tim saat ini apa?"
Pertanyaan terakhir sering paling berguna. Jawabannya memperlihatkan pekerjaan yang sebenarnya, dan memberi Anda kesempatan untuk menyampaikan dalam satu kalimat bagaimana Anda bisa membantu.
Apa yang bisa ditanyakan tentang perusahaan dan arah ke depan?
- "Apa prioritas tim atau produk ini dalam satu tahun ke depan?"
- "Biasanya, orang di posisi ini berkembang ke arah mana?"
- "Saya membaca soal rencana pembukaan cabang baru. Apa pengaruhnya untuk tim ini?"
Ajukan pertanyaan jenis ketiga hanya kalau Anda memang sudah membaca sesuatu tentang perusahaan. Jangan mengarang informasi hanya agar terlihat siap.
Bagaimana menanyakan tahap selanjutnya?
Pertanyaan ini hampir selalu menjadi penutup:
- "Setelah ini, tahapan selanjutnya apa saja?"
- "Kira-kira kapan saya bisa mendapat kabar?"
- "Apakah ada hal dari pengalaman saya yang perlu saya jelaskan lebih lanjut?"
Pertanyaan terakhir memang butuh sedikit keberanian, tetapi berguna: jika pewawancara masih ragu tentang sesuatu, Anda punya kesempatan menjelaskannya sebelum interview berakhir.
Apa bedanya pertanyaan untuk HRD dan untuk user?
Proses rekrutmen di Indonesia umumnya dimulai dengan interview HRD, lalu interview user, dan kadang ditutup dengan interview final bersama manajer senior atau direksi. Sesuaikan pertanyaan Anda:
- Ke HRD: alur dan jadwal rekrutmen, status karyawan (kontrak atau tetap), lama masa percobaan, lokasi penempatan, jam kerja atau sistem hybrid, pelatihan, dan ikatan dinas jika ada.
- Ke user: prioritas pekerjaan, target tiga bulan pertama, cara kerja tim, tantangan, dan ukuran keberhasilan.
- Ke manajer senior atau direksi: arah perusahaan, rencana tim, dan budaya kerja.
Perbedaan kedua tahap ini dibahas lengkap di panduan interview HRD dan interview user.
Pertanyaan apa yang sebaiknya dihindari atau ditunda?
- Gaji, tunjangan, dan cuti di interview pertama dengan user. Di Indonesia, HRD sering menanyakan "ekspektasi gaji" lebih dulu, dan saat itu membahasnya sepenuhnya wajar. Namun jika pertanyaan pertama Anda ke calon atasan adalah soal gaji atau jatah cuti, kesannya kurang baik. Simpan untuk HRD atau tahap penawaran.
- Hal yang ada di situs perusahaan. "Perusahaan ini bergerak di bidang apa?" menunjukkan Anda tidak menyiapkan diri sama sekali.
- "Jadi saya diterima atau tidak?" Pertanyaan ini menyudutkan pewawancara. Tanyakan tahap selanjutnya saja.
- Pertanyaan ya/tidak. "Timnya solid?" langsung menutup obrolan. "Bagaimana cara tim bekerja sehari-hari?" membukanya.
- Pertanyaan yang sudah terjawab. Dengarkan selama interview dan coret pertanyaan yang sudah dibahas.
- "Tidak ada pertanyaan." Kalau memang semuanya sudah jelas, katakan: "Penjelasan Bapak tadi sudah sangat lengkap. Mungkin satu saja: tahapan selanjutnya seperti apa?"
Berapa pertanyaan yang perlu disiapkan, dan bagaimana menanyakannya dengan luwes?
Siapkan lima, ajukan dua atau tiga. Kalau waktunya mepet, satu pertanyaan terbaik ditambah pertanyaan tentang tahap selanjutnya sudah cukup.
Supaya tidak terdengar seperti membaca daftar:
- Kaitkan dengan obrolan sebelumnya. "Tadi Ibu menyebut tim sedang pindah ke sistem kasir baru. Apa peran posisi ini di sana?" Ini jauh lebih kuat daripada pertanyaan hafalan.
- Satu pertanyaan sekali jalan. Jangan menumpuk tiga pertanyaan dalam satu kalimat. Dengarkan jawabannya, lalu ajukan satu pertanyaan lanjutan jika perlu.
- Tanggapi singkat. "Menarik, Bu. Di tempat saya sekarang kami juga memakai evaluasi bulanan seperti itu." Satu kalimat saja, bukan presentasi.
- Latih dengan suara keras. Pertanyaan yang rapi di kertas sering jadi panjang dan kaku saat diucapkan. Ucapkan dua atau tiga kali sampai terdengar seperti kalimat Anda sendiri.
Contoh (fiktif): Sari melamar posisi staf admin keuangan di sebuah perusahaan distribusi di Bekasi. Di tengah interview user, calon atasannya bercerita bahwa tutup buku bulanan sering terlambat. Di akhir, Sari bertanya:
"Tadi Bapak menyebut tutup buku sering mundur dari jadwal. Kalau saya bergabung, bagian mana dari proses itu yang akan saya pegang di tiga bulan pertama? Dan bagaimana kinerja di posisi ini biasanya dinilai?"
Setelah mendengarkan jawabannya: "Baik, terima kasih, Pak. Untuk tahap selanjutnya bagaimana?"
Persiapkan juga bagian interview lainnya
Akhir interview akan lebih mulus kalau bagian tengahnya kuat. Daftar pertanyaan yang paling sering muncul ada di pertanyaan interview kerja, dan untuk pertanyaan "ceritakan pengalaman saat Anda…", gunakan metode STAR.
Pertanyaan umum
Bolehkah bertanya soal status karyawan kontrak atau tetap?
Boleh, dan sebaiknya ke HRD. Tanyakan dengan netral: "Untuk posisi ini, status kerjanya kontrak atau langsung karyawan tetap, dan berapa lama masa percobaannya?" Ini informasi wajar yang perlu Anda ketahui sebelum menerima tawaran.
Apakah perlu bertanya di interview online lewat video call?
Perlu, aturannya sama. Bedanya, koneksi kadang terputus, jadi ajukan pertanyaan satu per satu dengan kalimat pendek dan pastikan pewawancara sudah selesai bicara sebelum Anda mulai.
Bagaimana kalau pewawancara bertanya balik "menurut Anda sendiri bagaimana?"
Itu tanda pertanyaan Anda menarik minatnya. Jawab singkat dengan pendapat Anda berdasarkan pengalaman, lalu kembalikan percakapan: "Tapi saya ingin tahu bagaimana tim di sini melihatnya."
Bolehkah mencatat jawaban pewawancara?
Boleh, cukup catat poin singkat di buku kecil. Minta izin sekali di awal, misalnya "Boleh saya catat sedikit, Pak?", dan tetap jaga kontak mata saat mendengarkan.